Resensi Novel Tetralogi Pulau Buru : Menjadi Manusia Lewat Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer

sumber : https://ardiologi.com/2018/02/17/sehabis-baca-tetralogi-buru-pramoedya-ananta-toer/

Membaca adalah kegiatan yang begitu menyenangkan karena dengan membaca kita mendapatkan berbagai kemampuan sekaligus. Kemampuan nalar logis serta kritis, memperluas daya imajinasi lewat membayangkan apa yang dibaca dan pikiran visioner lewat menyerap hal-hal baru yang kita baca. Meski memang kemampuan-kemampuan tersebut belum mewakili kemampuan yang dapat diperoleh lewat membaca dan tidak selalu dapat diperoleh lewat segala jenis bacaan. Namun, setidaknya menurut penulis ketiga kemampuan tersebut dapat diperoleh lewat membaca Tetralogi Pulau Buru karya Pramodeya Ananta Toer yang berisi empat macam mahakarya yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

            Keempat mahakarya tersebut jujur menurut penulis adalah salah satu bacaan yang paling berpengaruh dalam mengubah pandangan pribadi penulis tentang kehidupan. Sebuah mahakarya putra Indonesia yang mendunia. Pada tulisan kali ini penulis akan menyampaikan alasan kenapa kalian semua harus membaca tetralogi Pram ini. Bukan hanya sekedar membaca Bumi Manusia karena serasa ingin mengikuti tren saja, tapi membaca semuanya. Pertama jika dilihat dari sejarahnya karya Pram ini terbit pada kisaran tahun 1980 hingga 1988. Pada beberapa masa buku ini sempat dilarang beredar oleh Kejaksaan. Apakah kalian tahu mengapa sebuah  buku bisa menjadi hal menakutkan bagi orang-orang yang berlindung jabatan semata? karena lewat buku kita dilatih berpikir visioner dan kritis. Tentu hal tersebut tersampaikan dengan baik lewat keempat karya Pram ini.

            Penulis memiliki pendapat dan kesan tersendiri dalam menilai Tetralogi Pulau Buru ini. Menurut penulis keempat karya Pram ini menggambarkan proses terbentuknya manusia seutuhnya, manusia bermoral. Mengapa demikian? Sebenarnya ini adalah penilaian penulis semata jadi jikalau ada suatu kesalahan mohon maaf dan mungkin bisa kita diskusikan bersama. Kembali ke penilaian penulis terkait Tetralogi Pulau Buru, pada seri pertama yaitu Bumi Manusia. Penulis melihat bahwa disini ditonjolkan kisah mengenai Minke yang berusaha mencari role model bagi dirinya yang muak akan segala kebudayaan kaku keluarganya. Minke muda akhirnya menyukai kebudayaan Eropa dan mulai hidup layaknya seorang Eropa! Pada masanya hal tersebut adalah hal aneh, melihat pribumi menggenakan setelan layaknya seorang Eropa dan bersepatu. Dibalut kisah perjuangan semasa belajar di sekolah, Minke muda bertemu dengan Annalies pujaan hati pertamanya, berlian muda yang begitu ia cintai.

            Dalam Bumi Manusia terlihat proses berkembangnya seorang anak muda yang sedang mencari panutan yang ia sukai dan kelak ingin dia tiru. Memang betul sebagai manusia kita selalu ingin menjadi seperti sosok yang kita idam-idamkan bukan. Inilah makna dalam seri Bumi Manusia yang penulis tangkap, tentu beserta cerita roman lainnya yang begitu hebat. Dalam seri Anak Semua Bangsa, kita mulai dikenalkan kondisi bangsa kita yang kelak akan menjadi bangsa Indonesia. Dimana penindasan dan ketidak adilan meraja lela, bisa kalian bayangkan bagaimana menderitanya nenek moyang kita dahulu? Sangat menyakitkan, dalam seri ini kita pun diminta untuk mengenail bangsa kita. Minke Muda mulai melihat realitas kejam yang dialami bangsanya dan mulai merasa memiliki suatu beban moral untuk membebaskan bangsanya dari ketidakadilan. Tentu dengan caranya sendiri, yaitu menulis. Diperlihatkan pergejolakan diri Minke yang awalnya enggan menulis dalam bahasa Melayu bahasa ibunya sampai Minke mau menulis dalam Melayu. Suatu upaya dalam menuntaskan beban moral yang dibawanya sebagai putra bangsa.

            Anak Semua Bangsa mengajarkan pada kita bahwa seorang yang berpendidikan bukan hanya berkewajiban mencerdaskan dirinya sendiri. Melainkan turut mencerdaskan sekitarnya sebagai kewajiban moral. Dalam seri Jejak Langkah, Minke telah bertumbuh menjadi sosok pria yang bertujuan hidup. Meski tidak menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Minka memilih untuk menjadi jurnalis dan mendirikan Medan Priyayi suatu perusahaan media milik pribumi dan tidak takut terang-terangan mensuarakan ketidakadilan kepada pemerintah, ditanah jajahan yang rentan akan penindasan. Disinilah nilai kebulatan tekad seorang manusia yang dari awal binggung mencari jati diri, kemudian mulai mengenal bangsanya dan mulai bertindak sebagai salah satu putra bangsa demi bangsanya sendiri. Dalam seri Rumah Kaca kita diperlihatkan perspektif yang agak berbeda karena yang berkisah bukan Minke melainkan Pangemanann. Seseorang yang telah membuang Minke dalam pengasingan karena dituduh sebagai pembelot demi melancarkan kolonialisme Belanda.

            Meskipun dalam seri Rumah Kaca sedikit menceritakan tentang Minke. Namun, justru hal tersebut menjadi menarik karena kita akan melihat perspektif seorang pribumi yang mampu memiliki jabatan tinggi dijajaran pemerintahan kolonial dan harus menumpas bangsanya sendiri. Pergejolakan moral, prinsip dan segala hal idealis yang ia pengang harus dipertaruhkan demi satu hal bertahan hidup. Menjadi lengkap saat seorang manusa mencari jati dirinya, kemudian mulai dikenalkan pada realitas keterpurukan bangsanya, lalu mulai meniti karir perjuangan demi bangsanya dan melihat bagaimana prinsip kehidupan mampu atau tidak dipertahankan demi suatu kebenaran. Membaca Tetralogi Pram ini layaknya membaca sejarah karena sangat banyak kemiripan dengan sejarah kolonialisme di Indonesia bahkan menurut penulis hanya beberapa bagian yang fiksi saja, tokoh Raden Mas Minke pun terisnpirasi dari sosok Radem Mas Djokomono Tirto Adji Soerjo yang kita kenal sebagai bapak jurnalis Indonesia.

            Tertralogi Pulau Buru mengajarkan pada kita semangat nasionalisme yang sangat kental, semangat menentang kekuasaan yang melanggengkan ketidakadilan dan mengeyampingkan kebenaran serta mengajarkan pada kita kewajiban moral sebagai manusia terpelajar untuk mengembalikannya pada bangsa kita. Suatu karya refleksi yang akan selalu relevan dengan berkembangan suatu bangsa, suatu karya yang ingin menyampaikan nilai perjuangan hidup yang tidak melulu lewat peperangan dan sebagainya. Lewat tulisan beliau begitu dikenal dan tak akan luput dari sejarah.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian

Pramoedya Ananta Toer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s